"Cinta itu harus memiliki. Kalau nggak, ya bukan cinta."
"Cinta itu nggak harus memiliki. Hanya dengan melihat dia dari jauh, itu udah lebih dari cukup."
Yang mana yang benar?
Saya menulis ini di kala keremangan kota Bogor yang semakin hari, semakin mirip Jakarta; panas, sumpek, sibuk, amit-amit, dll. Tapi tidak membuat perasaan saya luntur terhadap kota hujan ini. Walau saya lebih suka tinggal di Bandung, empat tahun lalu. Oh, kok jadu curhat. Oke, back to main topic.
Pertanyaan semua orang yang pernah berkeremit dalam dunia asmara pasti akan bertanya; "Apakah cinta harus memiliki?" hmm... sebenarnya, saya juga nggak tau jawabannya. Saya membuat post ini karena dipinta oleh seseorang. Apa dan bagaimana sih pandangan saya secara pribadi mengenai cinta tanpa tuan ini?
"“I have to admit, an unrequited love is so much better than a real one. I mean, it's perfect... As long as something is never even started, you never have to worry about it ending. It has endless potential.” -- Sarah Dessen, The Truth About Forever.
Well, dari quotes di atas, pasti Sarah Dessen menyimpulkan bahwa cinta yang tidak harus memiliki adalah sempurna, karena kita tidak pernah memulainya, dan nggak perlu khawatir bahwa perasaan picisan itu bakal berakhir nantinya. Sakit? Itu resiko. Berani jatuh cinta, berarti berani patah hati, atau kecewa. Jangan mengeluh jikalau rasa sakit itu menderamu karena kamulah yang memutuskan untuk jatuh cinta sama dia :) orang selalu bilang, cinta itu bisa datang kapan saja, dan tidak terduga. Saya nggak setuju. Menurut saya, cinta bisa datang karena keputusan di hati kita. Hidup ini pilihan. Dan segala konsekuensinya juga bagian dari hidup.
Saya bahas satu-satu dulu, deh.
Tentang pendapat cinta nggak harus memiliki dulu, ya. Menurut saya, orang-orang yang berpendapat bahwa cinta tidak harus memiliki adalah orang-orang sabar, tulus, dan penuh pengertian, bahwa sesungguhnya dirinyalah yang memulai jatuh cinta, dan dirinya juga yang harus mengakhiri segalanya (jika mau). Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang berani jatuh cinta, dan menanggung sakitnya nanti kalau orang yang disayang itu suatu saat bakal dimiliki orang lain. Orang yang akan tersenyum saat hatinya menjerit tangis saat orang yang disayangnya memutuskan pergi; saat punggungnya menjauh, dan tidak terlihat lagi, barulah dia bakal nangis.
Orang yang berhati lapang. Tapi apakah hatinya cukup lapang menerima cinta tanpa balasan? Saya seringkali kasihan sama yang memaksakan diri seperti ini. Kalau suka, bilang aja. Urusan gimana-gimananya nanti, itu belakangan. Yang penting, dia harus tau. Dia harus tau. Itu udah lebih dari cukup. Menyayangi orang lain boleh. Tapi tolong, kasihani hatimu. Dia nggak bisa terus-terusan ngalah sama ego-mu, sama irisan sembilu dari batin. Cinta memang buta, tapi jangan butakan hati sendiri kalau memang kamu mengharapkan dia, tapi tidak mengharap dia membalas cintamu, yaudah. Katakan saja. Dijamin lebih tenang.
Lalu... tentang pendapat cinta itu harus memiliki.
"Cinta itu harus memiliki. Itu sebabnya ada kata-kata: rindu, setia, cemburu dan patah hati." -- Mario Teguh.
Hmm, sebenarnya saya setuju juga sih. Saya ulas lagi, ya. Apakah hatimu cukup lapang
menerima cinta tak bertuan yang terus-menerus mencubit-cubit dan mencakari relung hatimu? Sakit? Memang. Bagaimana cara menyembuhkannya?
Dengan memiliki dia.
Mungkin memang takkan mudah, dan prinsip cinta harus memiliki mungkin dianut oleh banyak kaum cowok. Tapi, saya mau membahasnya secara umum.
Cinta yang harus memiliki sebenarnya asas yang pernah saya anut. Namun belakangan, saya berpikir, bahwa rasa-rasanya agak terlalu egois untuk memaksakan kehendak memiliki seseorang yang mungkin saja perasaannya tidak sedalam perasaan yang kita miliki. Bukankah mencintai seseorang yang tidak menyayangi kita seperti kita menyayangi mereka itu terasa terlalu menyakitkan? Yak, benar. Maka dari itu ada kata patah hati jika cinta saling memiliki. Berbeda dengan cinta yang tak harus memiliki. Lebih banyak kecewa, dan patah hati menjadi hambar karena lama kelamaan hati menjadi terbiasa.
Jadi, yang mana pilihanmu?
Cinta harus memiliki, atau tidak?
Kamu yang tau jawabannya :)
