Halo, reader :) saya kembali. Kali ini, saya ngerombak habis-habisan blog saya. Kenapa? Karena saya mulai berpikir serius tentang ketertarikan saya terhadap dunia tulis menulis :) semoga berkenan di hati pembaca semua yaa :)
Nah, kali ini, saya nge-share cerpen buatan saya. Yang awalnya merupakan cerpen untuk ikutan dalam ajang kompetisi, dan sayangnya saya nggak menang (hiks...) jadi, yaudahlah. Saya share ulang aja di blog saya, ya :)
Selamat membaca.
....
"Karena dia membuatku jatuh cinta, di bawah langit kota hujan, dia membuatku tersenyum."
Bus masih melaju.
Sambil menghela nafas kurapatkan kedua belahan jaket di depan dada. Lalu kutatap luar jendela. Gelap. Malam temaram telah datang tanpa bintang menghiasi dentangan jam pada pukul delapan malam Waktu Indonesia Barat ini. Di luar sana, paling dominan aku melihat kendaraan umum berwarna hijau; angkutan kota. Atau disingkat angkot. Hampir di mana-mana kulihat angkot sedang ngetem atau semacamnya. Seruan abang-abang tersebut bahkan masih terdengar walau aku hanya menatapnya dari balik jendela gelap kebiruan yang kusentuh saat ini.
Pemandangan gelap itu sedikit terusik dengan titik-titik air hujan yang membasahi jendela tersebut dari luar. Bukan hal yang aneh mengingat julukan kota ini sendiri adalah kota hujan. Kota Bogor.
Warna-warni lampu mobil, motor dan lampu merah menambah suasana semakin romantis. Setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Sudut bibirku melengkung ke atas.
Romantis. Benar.
Aku meraih ponselku dan memasangkan headset pada lubang di pinggir ponsel. Setelahnya, kusumpalkan bulatan suara di kedua telingaku. Aku memencet sebuah tombol secara asal-asalan. Lalu lantunan lagu yang aku kenal terdengar.
Lagu I do dari Ten2Five. Salah satu band ternama di seluruh Indonesia.
Sejenak aku tertegun mengingat sesuatu dengan lagu itu.
Tiga tahun lalu. Saat pertama kali kukenal dirinya. Sesaat kuingat sosoknya.
Betapa kuingat.
Pertama kali kudengar suaranya
xXx
Tiga tahun yang lalu...
“Hai.”
Suara ngebass yang menjadi pengusik lagu I do dari Ten2Five yang sedang dipasang terdengar. Aku menatap curiga uluran tangan berkulit tan itu. Siapa gerangan laki-laki ini? Aku mengerjap lalu mengernyit. Tidak membalas uluran tangan itu sama sekali.
“Kenapa?” suara ngebassnya membuatku tersentak. Lalu aku mendongak. Menatapnya dengan mata menyipit. Laki-laki berambut hitam yang agak gondrong dan acak-acakan, bermata elang dengan pupil hitam legam sebagai irisnya. Tampak sangat kontras dengan alis tebal yang menaungi kedua mata teduh tersebut. Dan... senyuman yang selalu terkembang di bibirnya. Senyuman laksana cahaya matahari yang hangat dan menyenangkan. Laki-laki itu tampak tampan dengan kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga ke sikunya dan celana jeans hitam santai yang menutupi kakinya yang panjang hingga ke mata kakinya.
“Santai aja lagi,” katanya ringan. “Aku hanya ingin tahu namamu.”
Kutatap uluran tangannya yang masih dengan setia menungguku menjabatnya. Akhirnya aku menghela nafas dan menjabat tangan itu dengan enggan. Senyuman puas terukir di bibirnya yang tipis dan merah merona.
“Aku Derry Laksono. Panggil saja Derry,” cengirannya belum terlepas. “Kamu?”
Aku menghela nafas. Ingin semua percakapan ini cepat-cepat berakhir saja.
“Renata Zefanya,” balasku dengan nada datar lalu buru-buru menarik tanganku yang dijabat olehnya. Kutatap layar monitor laptop di hadapanku. Lalu sedetik kemudian kusadari bahwa Derry sudah duduk di hadapanku. Masih dengan senyuman cerianya.
“Nama yang cantik. Seperti orangnya!”
Gombal.
Aku menatapnya datar. Kenapa sih laki-laki ini selalu tersenyum? Apa ada yang lucu di wajahku?
“Kamu nggak bisa senyum, ya?” kini senyuman itu memudar setengahnya. Membuatku... sedikit merasa tidak ikhlas melihatnya.
“Bukan urusanmu.” Aku menatap layar monitor laptop Toshiba hitamku dengan datar. Banyak tulisan di sana, namun aku tidak membaca apapun.
Suasana Starbucks Coffee di Botani Square, salah satu plaza ternama di kota Bogor masih sibuk dengan hiruk-pikuknya. Awalnya, aku sedang mengerjakan tugas kuliahku di sana demi mencari ketenangan dengan secangkir caramel latte kesukaanku. Namun semuanya kacau balau saat laki-laki ini—Derry Laksono—dengan tiba-tibanya mengulurkan tangannya padaku, menanyakan namaku dan menghinaku dengan berkata bahwa aku tidak bisa tersenyum. Dan aku hanya diam dan menatapnya layaknya orang bodoh.
Bravo, Derry.
“Jutek amat,” dengusnya. Namun cengirannya kembali terkembang.
“Kamu tipe orang yang susah punya teman baru, ya?” tembaknya langsung. Dia mengaduk-aduk dark roast grande-nya dengan cuek. Kedua alisnya terangkat menatapku yang kini memelototinya dengan tidak senang.
“Apa maksudmu?” desisku. Semakin tidak senang saja.
“Tuh,” tundingnya. “Kamu berkata seolah-olah aku pengganggu,” dia mengerjap beberapa kali. “Coba katakan, apakah sikapmu begitu kepada setiap orang baru?”
Oke. Cukup sudah.
Aku menarik nafas, membereskan lembar-lembar tugas dan memasukannya secara sembarangan ke tas jinjing putih keabuan milikku, mematikan laptop dan menutupnya dengan agak kasar. Lalu setelah semuanya beres, aku berdiri.
“Lho, mau kemana?” Derry terlihat kaget, mencegahku dengan melempar tatapan bingungnya.
“Bukan urusan orang asing,” desisku sambil menekankan kata ‘orang asing’ dengan dingin lalu bersiap berjalan keluar. Tapi tangan hangatnya mencegahku untuk pergi.
“Begitu aja ngambek,” cengirnya. “Ayo temani aku,”
“Oh wow,” aku menatapnya sarkastik dengan kedua alis terangkat. Lalu berusaha melepaskan pegangan tangannya. “Kita baru berkenalan lima menit yang lalu, dan sekarang kau memintaku untuk menemanimu? Coba katakan, apakah sikapmu begitu kepada setiap orang baru?” sindirku balik. Namun rupanya dia tidak tersinggung. Malah senyumannya semakin lebar saja. Menampakkan gigi-gigi putihnya yang berderet rapi. Sorot matanya menampakkan kegelian luar biasa.
“Tidak pada semua orang baru kok,” senyumnya berubah lembut. “Hanya pada orang yang menarik untukku.”
Dan saat itulah aku tahu bahwa laki-laki ini juga sama menariknya.
xXx
Aku menghela nafas panjang. Kenapa sih AC-nya harus sedingin ini? Di luar hujan, dan keadaan tidak bisa jadi lebih buruk kalau dingin ini terus menyerangku. Aku ingin protes pada supir di depan sana karena mengatur pendingin udara sedemikian rupa rendahnya, namun tubuh dan otakku terlalu malas untuk melakukannya.
Jadi, kupasrahkan saja pada keadaan.
Merasakan kantuk yang teramat sangat, aku menguap sambil menutupi mulutku yang terbuka lebar dengan telapak tanganku. Padahal ini baru pukul setengah sembilan malam. Aku menatap ke sebelahku. Kosong. Lalu di seberang tempat dudukku, ada sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan. Di belakangnya ada seorang ibu yang terlihat sibuk dengan anak balitanya yang lucu.
Semuanya terlihat biasa saja.
Untuk mengalihkan rasa kantukku, aku menatap kembali ke luar jendela. Sebuah monumen dengan tinggi kurang lebih dua puluh lima meter tersebut menjulang tinggi seolah nyaris mencakar langit. Ujung monumen lambang kota Bogor itu berbentuk senjata pusaka tradisional Jawa Barat; kujang. Karena itulah sang monumen disebut dengan Tugu Kujang. Bahkan monumen ini tetap dimandikan setiap tanggal 3 Juni—yang merupakan hari jadi Kota Bogor—oleh para mahasiswa sebagai wujud kecintaan pada kota sendiri.
Mau tak mau aku tersenyum.
xXx
Aku menatap bangunan plaza dengan atap-atap berbentuk topi yang katanya merupakan salah satu tempat pariwisata paling bersejarah dan mengasyikan di Bogor itu dengan wajah bosan. Sudah satu jam berlalu dan yang aku lakukan hanyalah mengitari jalanan panjang dengan lubang-lubang kecil karena termakan usia tersebut.
Ah, koreksi. Kami sudah berjalan-jalan selama satu jam hanya dengan… memotret.
Yep. Kau bisa bayangkan betapa membosankannya.
“Lihat!” suara ngebassnya yang ceria membuatku mendongak menatap apapun yang ditunjuknya. Sebuah patung Kapten Muslihat di zaman dahulu terlihat gagah dengan pose menunjuk sesuatu. Di bawah kakinya terdapat tulisan ‘Plaza Kapten Muslihat’ yang merupakan nama tempat ini. Namun aku hanya menatap patung tersebut dengan wajah datar. Apa menariknya benda mati yang sedang berpose?
“Itulah Kapten Muslihat di zaman dulu,” katanya. Lalu suara kamera terdengar sekali. Kali ini dia menatapku. Masih dengan cengiran lebarnya. Aku mendengus.
“Aku juga tahu, kali.” Balasku sengit. Kenapa sih cowok ini tidak mengajakku ke tempat yang lebih romantis?
Maksudku, tempat ini begitu sibuk dengan debu di mana-mana!
“Tidak. Kamu tidak tahu,” katanya tidak setuju. “Kamu ‘kan tidak tahu sejarahnya,” dia mengernyit tidak senang lalu berkata lagi dengan nada menjelaskan. “Di dalam Plaza Kapten Muslihat terdapat sebuah taman yang diberi nama ‘Taman Ade Irma Suryani’, sebelumnya taman ini memiliki nama ‘Taman Kebon Kembang’ tempat orang berwisata, namun pada tahun 1980-an taman ini berubah fungsi menjadi terminal angkutan kota karena letaknya yang strategis di muka Stasiun Bogor,” jelasnya sambil menunjuk apapun yang disebutkannya tadi. Wajahnya berubah cerah.
“Terminal tersebut kemudian direnovasi menjadi ‘Plaza Kapten Muslihat’ yang mengusung konsep Bangunan berbentuk Topi, sehingga masyarakat pun menyebutnya dengan ‘Taman Topi’. Begitulah sejarah tempat ini!” jelasnya mengakhiri guide gratisnya untukku yang baru tiga tahun tinggal di Bogor ini.
Kesalahan besar memberitahunya akan hal itu.
Derry Laksono, seorang mahasiswa jurusan sejarah yang terlalu mencintai Kota Hujan ini—tempat kelahirannya—dan memutuskan secara sepihak bahwa dia akan membawaku ke tempat-tempat bersejarah di Bogor. Aku tidak tertarik. Namun aku memutuskan untuk menyetujuinya.
Hanya untuk melihatnya lebih dekat.
Hanya untuk melihat senyuman hangatnya lebih dekat.
Aku tersenyum tipis saat dia menatap bangunan itu dengan tatapan takjub. Laki-laki ini aneh banget, sih. Nggak romantis pula mengajak seorang gadis ke tempat yang sibuk dan ramai seperti ini.
Dia aneh. Dan tidak romantis.
Namun menarik luar biasa.
“Bagaimana kalau setelah ini kita makan di Taman Kencana?” ajaknya tiba-tiba. Dia menatapku dengan wajahnya yang bersinar ceria. Kilat matanya yang legam membuatku nyaris merasa tenggelam dalam kubangan hitam di matanya.
“Di sana banyak makanan enak! Kamu harus coba tauge goreng dan asinan gedung dalam-nya. Itu kuliner terbaik di kota Bogor, lho,” katanya lagi. Aku diam saja. Terlalu sibuk menikmati suaranya. Mengartikan diamku sebagai persetujuan, tiba-tiba dia meraih tanganku, menautnya dan berjalan beriringan denganku.
“Aku senaaang sekali hari ini!” katanya. Aku mengerjap. Lalu mengernyit menatapnya sebagai tatapan bertanya.
“Kenapa?” tanyaku. Iris legamnya kini hanya tertuju untukku. Senyumannya kembali terkembang. Namun ada kehangatan dan kelembutan di sana.
“Karena aku bisa berjalan beriringan denganmu hari ini!”
Aku mendengus lalu memalingkah wajahku yang memerah. Diam-diam mengulum senyum.
Aku juga.
xXx
Rasanya semakin mengantuk saja.
Lampu bus sudah banyak yang dimatikan. Sekarang sudah pukul sembilan malam. Sudah banyak penumpang yang tidur dan menyebabkan bus ini sunyi senyap. Kini aku melihat jalanan agak lapang untuk keluar dari kawasan terminal Baranangsiang. Sekali lagi, kurapatkan belahan jaketku. Berusaha menghindari udara AC yang semakin dingin saja.
Seharusnya aku tidur dengan mata yang tinggal lima watt ini.
Namun aku tak bisa memejamkan mataku barang sebentar saja. Rasanya ada yang mengganjal di hati.
Terlebih saat mengingat kenangannya. Sebelum meninggalkan kota ini.
xXx
Aneh. Hari itu dia tidak mengajakku ke tempat-tempat bersejarah yang membosankan lainnya di Bogor.
Kutatap laki-laki itu dengan pandangan curiga. Ini aneh. Tidak seperti biasanya. Bahkan hari ini dia terlihat lebih pendiam dari biasanya. Dia sering kali menghindari kontak mata denganku. Ada apa sih?
“Der,” panggilku. Laki-laki itu menoleh lewat ekor matanya lalu mengangkat kedua alisnya sebagai bentuk pertanyaan.
“Kita mau kemana sih?” tanyaku bingung. Laki-laki itu tersenyum misterius. “Rahasia.”
Kenapa sih dia selalu bisa membuat jantungku berdegup kencang begini?
Kami berjalan berbelok ke arah sebuah tempat makan di dalam Taman Kencana. Tempat tersebut berinterior bambu-bambu dengan sebuah nama; Warung Taman. Meskipun bernama 'Warung', namun konsepnya tak sesederhana itu. Bangku-bangku ditata rapi, dengan pencahayaan yang dibuat agak temaram dengan pepohonan. Meja makan dengan lilin di tengahnya. Ada juga mini stage untuk menampilkan hiburan akustik.
Satu kata. Romantis.
Kami duduk di pojokan warung. Setelah memilih menu, dia menatapku.
“Kamu suka tempat ini?” tanyanya. Aku terdiam agak lama. Sejujurnya, tempat ini indah dan romantis sekali.
“Ya.” Jawabku jujur. Dia tersenyum. Aku tersentak saat tangannya terjulur padaku. Meraih jemariku dengan lembut, menautnya, dan mengecupnya perlahan.
“Renata, Renata,” panggilnya. “Putri Salju yang kupikir cuma ada di negeri dongeng,” cengirnya jahil. Aku terkekeh pelan. Aku tahu aku memang jutek setengah mati dulu padana. Namun semuanya berangsur berubah ketika perasaan kompleks itu datang.
“Renata,” panggilnya lagi. Aku menatap manik matanya yang legam.
“Aku ingin mengatakan ini padamu sejak dulu,” katanya. Sorot matanya serius dan hangat. Kalimat selanjutnya membuatku menahan nafas.
“Bahwa aku mencintaimu.”
xXx
Kusibakkan rambut panjangku ke belakang bahu lalu mengerjapkan mata. Kini, ketika aku menatap keluar jendela, keadaannya sudah agak sepi dan gelap. Hanya diterangi dengan lampu-lampu dengan sinar keemasan jalan raya ini. Sudah lebih dari satu jam lalu bus ini sepi. Hanya ditemani oleh kenanganku yang temaram seperti malam ini.
Sebenarnya bus ini memang gelap atau aku saja yang terlalu menggelapkan mata pada kenangan?
Kenangan yang seharusnya lama aku buang.
Dan memutuskan meninggalkan kota ini beserta kenangannya…
Aku menghela nafas. Apa sih yang aku pikirkan? Semuanya tampak tidak ada artinya.
Tidak ada artinya.
xXx
Kutatap elang matanya dengan tatapan tak percaya. Dia juga menatapku dengan pandangan menyesal. Kenapa…
“Kenapa…?” tanyaku lirih menyuarakan isi hatiku. Nyaris tak terdengar.
Kami sedang berada di Starbucks Coffee tempat pertama kali kami bertemu. Lengkap dengan secangkir caramel latte-ku dan dark roast grande-nya. Benar-benar mirip seperti pertemuan pertama kali. Seolah-olah, takdir menyindir kami melalui pertemuan itu dan kini semuanya kembali terjadi.
Senyuman tak terkembang di bibirnya. Membuatku diam-diam merindukan senyuman itu.
“Kamu tahu… kita berbeda,” katanya. Manik matanya menatap lurus ke arahku. Wajah tampannya kini tirus—seperti terjangkit stress yang berkepanjangan—dan kulitnya yang tan terlihat agak pucat di bawah keremangan suasana Starbucks Coffee yang hampir tutup pada jam sembilan malam.
Berbeda?
Setitik air mataku jatuh. Memangnya aku tidak tahu fakta itu?
“Tapi… kamu tidak harus melakukan ini padaku…,” bisikku lirih dengan nada bergetar menahan tangis. Nyaris kutumpahkan semua emosiku jika tak ingat kami berada di tempat umum saat ini.
“Ini juga bukan mauku,” tangannya menggapai putus asa. “Kamu pikir, tasbihku dan salibmu akan saling bersatu, begitu?” nadanya terdengar menuntut dan tersiksa di saat yang bersamaan. “Karena itulah ibuku menjodohkanku dengan gadis itu! Aku juga tidak tahu ternyata dia berencana sejauh ini untuk memisahkan kita, Renata…,” nadanya benar-benar terdengar menyesal. Matanya memerah dan berkaca-kaca menahan tangis.
Sementara tangisku sendiri sudah pecah.
“Kamu harus percaya,” dia meraih tanganku sebelum aku menyadarinya. Kutatap lurus laki-laki yang menjadi kekasihku selama satu tahun lamanya itu. Semuanya terasa hampa saat ini. Hatiku hancur sudah. Mendengar segala berita yang terlalu mengejutkan bahwa dia—Derry Laksono-ku yang kucintai akan dijodohkan dengan gadis lain oleh keluarganya. Dengan gadis yang memiliki panggilan Tuhan yang sama dengannya.
Bukan aku. Bukan aku.
“Bahwa hanya kamu yang aku sayang. Bukan gadis itu,” jelasnya. Kini aku dapat melihat setitik air matanya menggantung di sudut matanya.
Dia tersiksa. Aku tersiksa. Kami tersiksa.
“Aku tahu,” bisikku. Menarik tanganku darinya. Kutatap dia dengan pandangan menusuk. Tanda tak mau terlihat gentar dengan semua kejadian penghancur hati ini. Aku menyayanginya juga. Tapi…
“Kita yang terlalu berbeda. Kau dan aku, sama-sama tahu itu ‘kan?”
xXx
Aku menyandarkan sisi kepalaku pada jendela yang dingin tersebut. Bibirku melengkung ke bawah. Aku sudah bersiap menangis jika mengingatnya kembali. Tuhan memang memelihara perasaan kita, tetapi ratapannya?
Aku memejamkan mataku untuk menahan desakan cairan panas tersebut.
Perbedaan.
Berbeda ras, suku, bangsa atau kewarganegaraanpun mungkin takkan serumit dan sesulit perbedaan cara memanggil Tuhan—agama.
Karena fakta yang tak bisa dibantah itulah takdir memisahkan kami. Karena kami berjalan di jalan yang berbeda, karena itulah kami berpisah. Tidak ada yang perlu dipersalahkan dari perbedaan yang sudah lama memendam rencana perpisahan dan benar-benar terjadi dalam kurun waktu yang bahkan tak tergapai oleh anganku.
Cinta.
Perasaan kompleks itulah yang menuntun kami bersama. Tidak ada yang salah dengan itu. Tulisan takdir yang menyusunnya. Mungkin, kamilah yang terlalu angkuh untuk melawan perbedaan itu dan akhirnya merasa sakit ketika terjatuh terlalu dalam. Justru keangkuhan kami dalam melawan perbedaan itulah yang menjatuhkan perasaanku dan dia.
Perasaan kami berdua.
Lama aku terdiam dalam keheningan pikiranku sendiri sebelum tiba-tiba bus-ku berhenti mendadak di depan sebuah Gereja yang terletak di track lingkar luar Kebun Raya Bogor yang bersejarah di Indonesia tersebut. Gereja GPIB Zebaoth. Gereja yang terletak di tengah sisi barat Kebun Raya Bogor ini dikenal juga dengan nama “Gereja Ayam” karena patung ayam di puncak menaranya dulunya merupakan tempat kediaman Gubernur Jenderal Belanda. Gereja ini mulai dibangun tanggal 30 Januari 1920 oleh J.P. Graaf van Limburg Stirum. Hal itu yang aku ketahui dari Derry dulu.
Aku menghela nafas. Derry lagi. Selalu dia.
Sambil mendengus, aku berusaha memejamkan mataku untuk menuju alam mimpi sebelum sebuah tangan merayap di bahuku. Lalu aku menelengkan kepalaku ke samping—mencari tahu siapa pemilik tangan itu—dan mendapati sepasang mata cokelat tua yang lebar tengah menatapku dibalik lensa kacamata frameless-nya. Seorang laki-laki berambut hitam yang agak kemerahan dengan potongan model urchin cut, memakai kaus putih polos dengan jaket adidas hitam bergaris keemasan, lengkap dengan seuntai kalung berbentuk salib di lehernya, juga celana jeans biru gelap yang menutupi kakinya. Bibir tipis merah mudanya melengkung ke atas—menyunggingkan senyuman manisnya untukku.
“Permisi, apakah bangku ini kosong…?”
Selesai
Sumber referensi : tema terinspirasi dari blog dwitasaridwita, google, wikipedia.