Powered By Blogger

Rabu, 06 Maret 2013

Hatif Ilusi

Halo, readers :) saya kembali dengan entri baru. Kali ini, saya menerima request seseorang yang namanya tidak mau disebutkan untuk membuat tema cinta yang digantung. Okeh, kita mulai saja :)

Selamat membaca :)






...



"Terkadang aku merasa cintamu semu; bagai hatif ilusi yang terlalu manis untuk tidak kusadari."




Orang bilang, cinta tidak harus memiliki. Namun aku merasa pernyataan itu semakin lama semakin menusuk hati; semakin aku membuat benteng dari kamu yang terlalu memesonakan aku di sela-sela kesendirian dan tertutup oleh katup tebal; membuatku nyaris tak merasa apa itu cinta. Tapi kamu datang padaku, menawarkan cinta, memberi senyum hangatmu, mengirimkan sejuta perhatian yang tak dapat kutolak, hingga akhirnya hatiku memasrahkan nasibnya pada kamu.

Kamu yang selalu di hati.

Tak mudah melupakan abstraksi wajahmu di langit dengan tinta awan sebagai pelukisnya. Senyummu laksana cahaya mentari yang menyinari dan menghangatkan aku. Kamu datang padaku tanpa peringatan, tanpa aba-aba, dan tanpa sadar, kamu telah mencuri hatiku. Sejak lama. Sejak hari itu, sejak detik itu; sejak aku merasa hangat kulitmu di indera perabaaanku. Kamu membayangiku dengan naungan cinta berlandas rindu yang tak kumengerti ketika aku tak melihat kamu.

Namun nyatakah semua itu?

Kamu yang membuatku meragu; kamu katakan sayang, namun tak ada bukti, kamu katakan rindu, namun aku merasa senyummu palsu. Kamu datang dan pergi sesukamu; ketika kamu merasa bosan dan butuh bersandar, kamu datang padaku, bersandar pada bahuku, mengharap hangat dan pelukan; dan ketika kamu sibuk dengan duniamu, kamu seakan lupa ada aku di sini. Bahwa, ada bagian dari duniaku yang hilang, walau aku mungkin bukan bagian dari duniamu. 

Tidakkah kamu peduli mengenai perasaanku? Pedulikah kamu tentang apa yang aku rasakan?

Tak kunjung kalimat kepastian kamu ucapkan dari bibirmu. Tak kunjung pula kau menarik perasaanku yang terbang jauh menyentuh anganku untuk bisa bersamamu. Sadarkah kamu bahwa perlakuanmu menyakitiku? Sadarkah, bahwa dengan ketidakpastian yang terus kamu berikan menorehkan sejuta luka di hatiku; walau aku mungkin tak menunjukannya, bertingkah seolah-olah semua baik-baik saja, dan tidak ada yang salah dengan hatiku. 

Tahukah kamu rasanya, mencintaimu dengan penuh keterbatasan; aku tidak bisa menunjukannya padamu.

Karena aku bukan siapa-siapa.

Ketika kamu tidak memberiku kabar lewat sms, telepon, chat, atau apapun itu; adakah hak bagiku untuk tahu apa yang kamu lakukan? Adakah hak bagiku untuk tahu? Adakah hak bagiku untuk merasa khawatir berlebihan? Atau, apakah aku berhak bertanya, "Ke mana saja kamu?" Tidak. Karena aku bukan siapa-siapa.

Ketika kamu tertawa dengan akrabnya bersama orang lain, merangkul mereka, dan berdekatan, apakah aku berhak untuk cemburu? Atau hanya untuk sekedar bertanya, "Siapa dia? Ada hubungan apa denganmu?". Jawabannya adalah tidak. Kenapa? Karena aku bukan siapa-siapa.

Apakah selamanya aku akan terus menjadi bayang-bayangmu? Tak terlihat namun selalu menyertai. Tulus, namun diabaikan, dan selalu berada di belakangmu, mengawasimu diam-diam dalam selimut duka? Sakit. Rasanya seperti ada seribu sayatan sembilu menoreh dan membuat luka menganga di hatiku. Ketika kamu memperlakukanku dengan tanpa hati, dan ketika aku membalas kamu dengan sepenuh hati. 

Coba rasakan, Sayang. Kamu selalu katakan "Tunggu aku." tapi sampai kapan aku harus menunggu? Kurang sabarkah aku selama ini? Kurangkah aku menunjukkan rasa cintaku untukmu? Atau, kurangkah aku untukmu? Apakah kamu tidak mau orang-orang itu mengetahui bahwa kamu milikku, dan aku adalah milikmu? Merasa seperti itukah kamu?

Berbagai pertanyaan menyusup ke celah-celah hatiku; mengasihani diri sendiri dengan menangisi kamu, seseorang yang aku cintai, namun tak kumiliki. Sadarkah kamu bahwa perasaanku yang seperti itulah yang membuatku merasa tersakiti? Tahukah kamu, aku ingin selalu ada di dekatmu, menghirup wangi tubuhmu lebih dekat, dan menghabiskan hari bersamamu dengan penuh tawa, tanpa ada nelangsa perih yang kuhirup dari wangi petikan sekuntum rindu? Sebut saja aku konyol, bodoh, tidak punya harga diri. Entahlah. Aku tidak peduli, aku hanya ingin kamu tahu, aku tulus; aku tidak pernah menomorduakan kamu; karena kamu yang selalu menjadi prioritas hatiku.

Namun dengan keadaan begini, masih pantaskah kamu aku nomorsatukan? Masih pantaskah, cintaku yang tak bertuan ini terus melangkah tanpa tujuan? Aku lelah, Sayang. Penantian ini tak berujung pada sebuah titik terang yang menghubungkan aku dan kamu. Kamu jauh di sana; bersama rajutan duniamu tanpa ada aku di dalamnya. 

Haruskah aku berpaling darimu? Haruskah aku menerima cinta yang lain? Haruskah? Tetapi hatiku telah berlabuh pada kamu. Hanya kamu; walau cintamu bagai hatif ilusi yang dikarang fiksi; entah nyata atau tidak, aku telah jatuh kepada kamu. Tidak ada skenario, semua terjadi. Kamu sendirilah yang membuatku jatuh untukmu, namun apakah kamu akan menangkapku ketika aku jatuh? 

Aku butuh kepastianmu, Sayang. Bukan janji-janji dan omongan manismu. 

):):):):):)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar