Powered By Blogger

Kamis, 22 Agustus 2013

Review : Sunshine Becomes You

Halooo pecinta buku! (yang sama seperti saya) kali ini, lagi-lagi saya akan memberikan review telat saya pada sebuah novel dari novelis favorit saya di Indonesia; Ilana Tan. Siapa sih yang nggak kenal penulis misterius yang telah menulis Tetralogi Empat Musim (Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London) telah membuat namanya melambung tinggi di deretan novel terbaik atau titel best-seller di toko-toko buku ternama. Aku punya semua bukunya, loh! #sowhat.

Ehm, jadi baru-baru ini... saya baru membaca karyanya yang terbaru; Sunshine Becomes You. Sebuah karya yang menyandang status 'National Best-Seller' dan terjual lebih dari 30.000 eksemplar dalam dua minggu! Luar biasa banget, ya? Ah, kapan saya bisa kayak dia... *ngarepdikit*

Dan saya akan memberikan review. 


(WARNING untuk yang belom baca, kalo Anda benci spoiler, silakan tekan tombol back dengan senang hati, ya)


Sinopsis
Ini kisah yang terjadi di bawah langit New York...
Tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan...
Tentang impian yang bertahan di antara keraguan...
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.

Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu -malaikat kegelapan yang membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa, dan Alex bertannya-tanya bagaimana ia bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapan.

Awalnya, mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga.
Kemudian Alex Hirano tersenyum, dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai-sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.


Sunshine Becomes You adalah karya Ilana Tan yang kelima setelah Tetralogi Empat Musim itu. Bercerita tentang pertemuan yang sangat berkesan bagi dua tokoh protagonisnya; Alex Hirano, sang pianis ternama di New York, dan Mia Clark, seorang pengajar tari di Small Steps Big Steps Dance Studio yang tidak terlalu terkenal. Mereka berkenalan karena (awalnya) adiknya, Ray Hirano yang juga seorang penari b-boy katanya mengajar di Small Steps Big Steps Dance Studio. Karena Alex sangsi adiknya itu mengajar (dari yang saya baca, katanya Ray Hirano memiliki karakter tidak sabaran dan nggak bisa ngajar) dia ikut sama Ray ke dance studio itu. Sepanjang perjalanan, Ray menceritakan tentang Mia Clark. Ray suka sama Mia, dan Alex semakin penasaran seperti apa gadis itu.

Dan di sinilah malapetaka terjadi.

Sewaktu Alex dan Ray hendak naik ke atas tangga, tiba-tiba Mia terjatuh dari tangga dan menabrak Alex dengan sangat keras, sehingga tangan Alex terkilir parah dan dua bulan, tangannya harus dibebat. Dan Alex terpaksa membatalkan sebua konsernya lewat manajernya; Karl Jones. Mia terus merasa bersalah.

Singkatnya, karena Mia nggak bisa membayar uang ganti rugi atas pembatalan semua konser itu, dia menawarkan bantuan menjadi pesuruh Alex di rumahnya (karena Alex nggak mungkin mengerjakan semua hal dengan satu tangan kan? Sementara dia tinggal sendirian di apartemennya) dan Alex setuju (walau awalnya dia gusar setengah mati melihat "malaikat kegelapan"-nya ada di apartemennya setiap hari) nah, dari kebersamaan yang terbiasa ini, mulai tumbuh benih-benih cinta~ #tsah.

Tentang penokohan, Alex Hirano sendiri punya karakter yang moody, cuek, dingin, uring-uringan kalo terlalu khawatir, dan kadang-kadang ucapannya bisa sangat menyebalkan (saya sendiri yang baca kadang gregetan sendiri sama sifat "tsundere" Alex ini hmmh) tapi sebenarnya di balik semua itu, dia berhati baik, lembut, kreatif, dan penyayang. Dia nggak terlalu suka menujukkannya karena gengsian. (tipikal cowok yang bakal saya hindari sih.) dan kalau Anda pembaca setia karya-karya Ilana Tan, Alex Hirano memiliki sifat/karakter yang berbeda dengan karakter-karakter cowok di buku-buku Ilana Tan yang lain. Biasanya Ilana membuat tokoh cowok yang Oh-So-Prince-Charming-Yet-So-Protective (dan yang paling saya sukai adalah Tatsuya Fujisawa dari Autumn in Paris) tapi Alex Hirano punya karakter rada menyebalkan, egois, pembawa mimpi buruk bagi semua orang kalo suasana hatinya sedang jelek (ini kalimat yang bikin saya ketawa sebenernya) dan jujur, Ilana berhasil menggambarkan sifatnya itu dengan sangat baik :) 

Lalu ada Mia Clark, yang cantik, manis, dan disukai banyak lelaki. Dia nyaris memiliki karakter yang sama dengan tokoh-tokoh cewek di karya Ilana yang lain (satu-satunya tokoh wanita yang agak berbeda sifatnya hanyalah Naomi Ishida, dari Spring in London) jadi saya tidak akan menuliskan tentangnya banyak-banyak. Mia Clark juga diketahui anak adopsi sejak lahir dan dirawat dengan sangat baik oleh kedua orangtua asuhnya. Mia punya penyakit jantung, yang membuat konflik di cerita ini secara berkala.

Selanjutnya, ada Ray Hirano. Yang ini sih, karakternya mirip-mirip sama tokoh-tokoh lelaki yang dibuat Ilana Tan di Tetralogi Empat Musim. Hanya saja, Ray Hirano mungkin agak sedikit cerewet dan terlalu banyak bicara (sehingga dia tidak tahu apa-apa tentang Mia, dan frustrasi saat tahu kalau Alex yang baru kenal Mia, ternyata lebih banyak tau tentang Mia daripada dia yang udah kenal Mia duluan). Tapi jujur, Ray adalah tokoh favorit saya di novel Sunshine Becomes You ini ;) 

Tentang alur, seperti biasa, Ilana Tan selalu menuliskan kisah roman yang picisan, tapi dia "menyuguhkan"-nya dengan sangat baik, sehingga pembaca juga menikmatinya, karena kadar diksi yang oke banget. Idenya lumayan menarik, dan suasana New York-nya lumayan "dapet" kok (walau saya lebih suka pendeskripsian Ilana tentang sebuah kota di novelnya yang berjudul Spring in London, sih) walau awalnya, saya sempat bertanya-tanya, ini latar tempatnya di mana?! #HEH #lemot. Soalnya terlalu banyak restoran yang namanya sangat-tidak-Amerika (oke, mungkin ini karena saya sok tau. Belom pernah ke Amrik soalnya). Lalu, alur waktunya bertahap dan runtut di awal-awal. Tapi mendekati "ending"-nya, malah terkesan sedikit terburu-buru dan saya harus agak lebih cermat membacanya agar suasana kejadiannya "nyampe" dan sedikit berusaha agar bisa membayangkan kejadiannya (yang cukup berhasil sih untungnya). Omong-omong, banyak juga quotes bagus di novel ini yang menyentuh hati. Dan saya yakin itu dari hasil pemikiran Ilana Tan sendiri. Bukan ehemplagiatehem kayak novel karya seorang selebtwit yang ternyata plagiat itu ;) hihi.

Konflik yang digambarkan cukup oke. Saya ikut merasakan penderitaan Mia saat dia nyaris pingsan, atau penyakitnya nyaris kambuh. Deskripsinya pas banget, dan nggak lebay (saya pernah baca novel yang mau 'menggambarkan' adegan orang pingsan aja bertele-tele banget sampe satu paragraf sepuluh baris penuh. Duh) dan ikut ngerasa ikutan pusing pas deskripsi ["ia merasa pandangannya mengabur"] itu. Jarang-jarang tulisan yang bisa ikut memengaruhi saya secara fisik, lho. Bravo, Ilana Tan! ;)

Tentang ending... ah, sorry to say. Tapi saya nggak merasakan feel-nya. Saya membacanya dengan wajar super-datar (padahal di novel Autumn in Paris, saya berkaca-kaca saat mendekati bagian ending, dan mewek pas baca epilognya) dan emosi saya juga flat. Ada gejolak sedikit perasaan sedih saat Mia ternyata merekam dirinya sendiri sebelum meninggal untuk Alex. Tapi lagi-lagi, saya berpikir idenya agak picisan dan... kayaknya saya pernah baca ending kayak gini juga deh. Apa mungkin karena itu, ya, jadi saya nggak terlalu tersentuh? Hmm, membaca ide tulisan yang sama berulang kali memang bisa menurunkan kadar emosi saat membacanya ulang sih. (setuju nggak?) jadi, yaaa, biasa aja. Tapi mungkin beberapa pembaca lain akan merasakan hal berbeda dengan saya? Semoga. ;) karena karya-karya Ilana Tan tidak bisa disebut "piece of cake" tapi tidak bisa juga disebut "masterpiece". Kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan adalah "sweet-yet-brilliant" karena saya sendiri belum bisa membuat plot sedemikian rupa agar semuanya terkesan "nyambung". 

Oh ya, saya dengar-dengar, Sunshine Becomes You akan difilm-kan? Whoa! Keren banget! Saya sudah pasti akan menonton filmnya jika premier di bioskop nanti. Yaa, siapa tahu feelnya lebih terasa, kan? ;)



Baik, teruslah berkarya, Ilana Tan! Aku fans beratmu! :3
-Hachan-

Senin, 12 Agustus 2013

Consultant #1

Haaai, folks! Apa kabar? Selamat Idul Fitri ya untuk yang merayakannya :)

Oke, jadi dengan judul ini, saya disarankan seorang teman untuk membuat entri curhat Q&A dari orang-orang yang curhat sama saya. Saya memakai nama panggilan orang-orang yang curhat sama saya untuk menyamarkan saja supaya yang curhat juga nggak malu-malu banget :P

Let's start!

Billy (dari ask.fm) : mau nanya, knp gw selalu di friendzone sama cewek? knp begitu? biasanya alesan cewek apa? thx.

Answer : Billy yang bad luck kayak Brian, sini aku jawab ya :) kamu sering di friendzone cewek? Hahaha, aduh sabar yaa. Aku punya beberapa jawaban sih buat kamu. Yang pertama, emang si cewek nggak suka sama kamu, atau malah terlalu suka. Iya kamu nggak salah baca. Terlalu suka. Seorang cewek, kalo udah terlalu suka sama cowok, biasanya dia akan menghindari hubungan yang terlalu mengikat, karena dia khawatir ntar kalo putus, hubungan kalian berdua nggak akan sama lagi. Singkatnya, hubungan kayak gini disebut HTS. Saya ngerti kamu cowok, karena ego-mu gede, dan pasti butuh kepastian. Jadi ya sekarang pilihannya di tangan kamu aja. Mau ngikutin si cewek yang ngefriendzone karena takut kehilangan, atau ya kamu cari cewek lain aja yang bisa ngashih kepastian. Keep loveable, bro ;)

Tania (dari chat fb) : Hachan, aku mau nanya :'( kalo cowok nggak peka itu kenapa? Harus diapain biar peka? Aku capek nolak-nolakin cowok buat dia doang, tapi dia yang aku suka malah nggak sadar sama sekali. Aku harus gimana? Aku sayaang sama dia loh. Kamu pernah ngalamin kayak gini gak? Makasih sebelumnya.

Answer : Panjang banget curhatnya wakakak. Maaf ya aku singkat ke intinya aja :p . Oke, Tania yang tercakiti(?) aku jawab ya. Cowok itu sebenarnya bukan nggak peka. Tapi mereka adalah makhluk peragu. Asumsi mereka terhadap sesuatu itu tinggi; sehingga mereka sering pusing sendiri, apakah asumsi mereka benar atau salah (yang keseringan salah sih HEHE). Jadi, yang harus kamu lakukan adalah meyakinkan dia kalau asumsinya terhadap kamu itu benar. Caranya biar dia peka? Well, apa susahnya kamu ngomong langsung sama dia, apa yang kamu rasain, apa yang kamu pikiran? Tania, cowok itu BUKAN SELALU Deddy Corbuzier yang bisa nebak pikiran kamu, perasaan kamu, dan mereka nggak suka menebak-nebak sesuatu yang abstrak, karena nggak masuk akal. Kamu sayang sama dia? Bagus dong. Masalahnya, dia pantes enggak disayangin sama kamu? Jangan dibutakan sama rasa sayang ya ;) dengarkan kata otak kamu juga. Cinta itu sedikit membutuhkan LOGIKA. Apa yang lebih indah dari sebuah hubungan yang saling mengerti? ;) keep spirit, girl!

Resianna (dari chat fb) : Han, kenapa sih cowok gue suka ngelarang2 gue ini itu? Tapi dia sendiri kalo gue larang-larang malah marah. Gak pernah punya waktu buat gue dia main game terus sama temen-temennya. Terus gue malah dipaksa nemenin dia main game padahal gue enggak suka. Harus gimana?

Answer : Ckckck, masih ada ya cowok kayak gitu? Kirain udah punah bersama dinosaurus. #disepak. Resi yang sabar banget, denger yaa. Cowok kayak gitu egois. Bukan tipikal cowok pengertian. Apa selama ini kamu enggak makan hati? Kemungkinannya sih ada dua ya kalo cowok begitu. Pertama, dia terlalu sayang sampe "mendominasi" hidup kamu, atau yang kedua, dia kekanak-kanakan. Mau umur berapapun dia, dia tetaplah seorang bocah laki-laki. Sampai kapanpun sifat kekanak-kanakannya itu pasti ada. Masalahnya, kamu mau naungin dia terus apa enggak? Banyak cewek ingin dimengerti, tapi nggak mau ngerti. Jangan sampe kamu termasuk cewek kayak gini, ya. Coba, kalo dia ngelarang-larang kamu, tanya alesannya apa, kalo perlu sampe debat segala ya nggak apa-apa. Inget. Kamu BUKAN MILIK DIA. Dan dia juga bukan milikmu. Kamu dan dia adalah individu yang bebas, menentukan apapun yang terbaik buat diri sendiri (selama hal tersebut positif, ya). Dia cuma pacar. Apa haknya? Dia maksa kamu nemenin main game tapi kamu enggak suka? Ya bilang aja terus terang. Kamu harus terbuka sama dia, biar nggak ada yang ditutup-tutupi. Dia malah marah? Berarti dia nggak sayang sama kamu. Be realistic, be proud to be a woman! ;)

Alvin (dari pm ffn) : Author-chan, katanya mulai buka consultant, ya? Mau dong curhat dikit. Saya baru-baru ini putus sama cewek saya. Tapi terus abis putus, dia ke saya ya biasa aja kayak waktu masih pacaran. Kita tetep sms-an, chat, telpon, masih perhatian gitu. Saya bingung, jadi kenapa dia mutusin, ya? Arigatoo.

Answer : Sebenernya aku rada geli dipanggil "Author-chan" HEHEHE #dor. Tapi it's okay, Alvin yang baru putus. Baca jawabanku yaa ;) . Cewek itu makhluk yang logikanya susah dimengerti. Kelihatannya simple, tapi sebenernya nggak. Jadi, ada dua kemungkinan di sini; pertama, dia masih sayang kamu, tapi ada suatu alesan yang dia tidak bisa jelaskan ke kamu makanya dia mutusin, atau yang kedua ... selama pacaran sama kamu, sebenernya dia nggak pernah suka ._. *jeng jeeeng* jadi pas putus, dia merasa biasa aja. Dia ngerasa nggak ada yang berubah di dalam hidupnya. Dia merasa "ramah" bukan "perhatian" sebagai TEMEN ke kamu. Mungkin juga waktu pacaran dia udah merasa begitu. Nggak ada yang tau kecuali hatinya sendiri. Nah, yang saya ingin tau, apa kamu masih sayang sama dia apa enggak? Kalo iya, coba tanya baik-baik alesannya apa. Terus kamu yang memutuskan apa alesannya bisa diterima LOGIKA apa enggak. Jangan pakai hati. JANGAN. Kalo pake hati, keputusanmu nggak akan objektif terhadap alesannya. Jangan mudah putus asa dalam menjalin sebuah hubungan. Selama masih bisa lanjut, jangan bilang nggak bisa, oke? Much love from me, bro ;)


Akashi (dari ask.fm) : kak Han pernah pacaran beda agama kan? aku suka sama orang beda agama nih kak... gmn dong baiknya? komitmen pacaran sama orang beda agama itu gimana ? susah ya kak pasti? :"

Answer : Hahah. *ketawa miris* baiknya gimana? Hmmh, waktu masih naksir-naksir juga aku ada perasaan kayak kamu gini. Beda agama, agak ragu ke depannya gimana ntar. Tapi ya gitu. Begitu cinta itu di depan mata, rasanya otak lumpuh sekejap. Main api dengan cinta yang berbeda #apasih. Semua komitmen itu tidak ada yang gampang sih pasti. Mau agamanya sama atau beda, ya namanya komitmen itu tidak mudah dijalani. Nah bedanya, beda agama itu, komitmen yang kamu bangun harus sangat kokoh, ditambah toleransi, hargai perbedaan, jangan saling memengaruhi, saling mendukung agama pasangan masing-masing, dan biarkan cinta di hati kamu yang menyatukan kalian. Tapi ya, aku saranin aja, sebaiknya sih, kalau bisa sih, jangan pacaran sama orang beda agama ... awalnya aja indah. Lama-lama kamu bakal nerima kecaman di mana-mana. Jujur, yang paling berat itu kamu menerima kecaman dari keluarga. Nggak enak kan pasti kalo orangtuamu aja nggak ngedukung, dan menentang habis-habisan? Okelah kalau kalian mau menjalaninya bersama-sama. Saling mendukung. Tapi mau gimana? Mau sampai kapan? Bahkan di dunia fiksi, orang yang punya cinta beda agama berakhir 'menggantung' nggak jelas akhirannya gimana. Apalagi di dunia nyata? Akashi, walau gereja Katedral dan mesjid Istiqlal berseberangan, tapi umatnya nggak ditakdirkan untuk bersatu. Sayangi Tuhan dan dirimu sendiri terlebih dulu, ya? ^^


Kevin (dari chat fb) : Han, gue iseng curhat yak. Pengen nanya aja sih. Kenapa cewek maunya dingertiin terus tapi gamau ngertiin cowoknya? salah penuh cinta dari gue :P

Answer : Pertanyaan mainstream yang SANGAT egois. Sekarang coba pake logika dari kedua belah pihak, ya. Logika cewek, seperti yang saya sebutkan di answer untuk Alvin, memang susah dimengerti. Nah, sementara itu, logika cowok sangat-sangat simple (sehingga mudah banget buat dibaca apa yang ada di pikirannya. Hei cewek itu punya indera keenam untuk tahu apa yang ada di pikiran cowoknya. Saya nggak bohong. Walau kebanyakan cewek diem aja ngikutin kebohongan cowoknya yang saya nggak ngerti, entah buat apa diikutin -__-) dan tidak serumit cewek. Nah, mari kita gabungkan. Cewek yang rumit, selalu ingin dimengerti kerumitannya; sehingga dia cenderung uring-uringan dan ngambek sendiri saat logika cowok yang sederhana itu "gagal" mengerti. Hal ini yang menimbulkan asumsi kalo cewek "tidak mau mengerti" dan akhrinya cowok menyerah untuk mengerti. Singkatnya, benar cewek yang nggak mau ngertiin ... atau justru cowok yang tidak mau mengerti? Paradigma yang unik. Belum bisa dipecahkan sampai sekarang. Tuhan menciptakan wanita dari tulang rusuk lelaki. Tanpa wanita di sisi lelaki, hidup lelaki itu tidak akan sempurna. Begitupun wanita, hidup tanpa lelaki sama aja hidup tanpa sandaran untuk berlindung. Saling mengerti, saling toleransi. Jangan saling menyalahkan. Itu kuncinya ;).

Anjani (dari ask.fm) : Kak, jawab serius ya. cowok kenapa suka ngephp-in cewek? :'( aku korban nih... udah terbang jauh'' eh dijatohin keras banget. 

Answer : Aduh, ini lagi. Kasus mainstream hahaha *ketawa dulu ah* Anjani yang manis dan merasa jadi korban php, sini sini kakak kasihtau yaak. Yakin emang cowoknya php atau kamunya aja yang kegeeran? :P Hayooo. Jangan-jangan emang dia orangnya baik, ramah, manis sama semua orang, terus kamu ngerasa jadi spesial karena dia begitu? Hehe, jangan ah :) kasian hati kamu nanti sakit. Coba yaa, tolong bedain "ramah" dan "perhatian" itu berbeda. Kalo tanda yang dia kasih sama aja ke orang-orang lain ama ke kamu, mending kamu balik kanan-bubar-jalan, atau jaga jarak aja. Jaga-jaga gitu, kan takutnya ntar merasa dispesialin sama dia. Lagian, kalau kamu teliti, ada perbedaan signifikan antara cowok yang memberi perhatian tulus, atau hanya sekadar ramah, lho. Coba, pelan-pelan aja yaa :) jodoh nggak ke mana kok. Respect and love yourself first, okay? ;)


Sekian dulu. Kamu mau curhat juga? Boleh. Hubungi saya dari ask.fm : hannachaan, atau twitter; @hannachaan, atau facebook; https://www.facebook.com/hanna.tazkiyaa

Byebye, folks! XD

Kamis, 01 Agustus 2013

Review : The Conjuring

Hai, folks! Udah pada liburan? Belom? Kasiaan deh lo. Gue udah libur doong~ #disepak.

Oke, kali ini gue mau mereview film The Conjuring, yang baru-baru ini tayang di bioskop tercinta. Covernya aja udah serem banget, belum lagi directornya pembuat Saw dan Insidious. Udah pasti keren? Hmm, mari baca pendapat gue ya.

Sebagai pecinta film horor, belum pernah gue bener-bener jerit kaget begitu setannya nongol. Semula, menurut gue sih, film horor yang keren itu Women in Black dan mungkin Insidious (karena saya gak suka banget hantu anak kecil. Sumpah. Amit-amit serem banget. Maksud gue, liat aja Samara dari The Ring. Kampret banget kan seremnya?) tapi The Conjuring berhasil menempati posisi pertama di hati saya #apaan.

Oke, mengenai alur, menurut gue udah oke banget. Tentang pasangan demonologist yang bekerja membantu orang lain memberantas makhluk gaje di rumahnya. Sampe didokumentasiin atau biasa disebut dokumenter. Agak mirip dengan Insidious, ya? Paranormal, iblis super jahat, dll.

Tokoh dan penokohan; karakter Lorraine langsung menjadi favorit saya. Paranormal wanita yang pemberani, penyayang, keibuan, dan ramah. Matanya yang saya suka banget. Benar-benar deh, Vera Farmiga memerankan tokoh Lorraine dengan baik sekali. Tapi pemeran-pemeran lainnya juga oke kok. Yang agak kurang sreg, mungkin karakter Roger Perron (Ron Livingston) menurut saya, dia kurang "ekspresif" dan keliatannya culun banget. Kayak nggak tau mau ngapain lagi dia di sana. Di momen seharusnya dia ketakutan, dia malah pasang muka datar yang hanya mengerutkan alis. Kurang "dapet" aja gitu. Tapi selebihnya, dia baik-baik saja.


Apalagi di sini juga ada boneka Annabelle (yang amit-amit, saya lebih pilih hantu anak kecil daripada hantu boneka!) yang mukanya menyeramkan banget, dengan mata besar, pipi kehitaman karena kotor, dan rambut cokelat yang dikepang dua. Ada beberapa versi mengenai boneka Annabelle. Ada yang menyebutkan kalau boneka ini agak mirip dengan boneka Mary (boneka yang digambarkan di film The Conjuring) ada juga yang hanya sebatas mirip boneka usang biasa. Adanya konsep boneka Annabelle di film ini agak mirip dengan konsep boneka Billy Saw (atau Jigsaw) di serial thriller film Saw. Keduanya sama-sama jahat, anyway. Walaupun boneka Billy Saw lebih kejam (secara fisik) dibanding Annabelle yang hanya sekadar meneror demi mendapatkan "teman".



O ya, ngomongin boneka Annabelle, boneka ini juga ada beneran lho. Tepatnya di Occult Museum, Connecticut, Kota Monroe, Amerika Serikat. Begitupun cermin The Conjuring yang serem itu (yang itu loh, kotak musiknya) juga menurut petugas museum, boneka Annabelle seringkali berpindah tempat dengan sendirinya, dan sering menulis sesuatu di kertas memo (di film The Conjuring, dia menulis: "Miss me?" kepada Donna, pemilik aslinya di tahun 1970) dan sering menyakiti manusia secara fisik. Karena itu, wisatawan yang ingin datang, harus membeli tiket dari jauh-jauh hari; sekalipun mendapat tiketnya, mereka hanya dapat melihat boneka Annabelle itu dari beberapa meter kaca yang menyegel Annabelle. Juga sebuah video pengusiran setan yang dilakukan oleh Lorraine...  berani datang?

Soal hantunya, menurut saya sih nggak terlalu serem, ya. Biasa aja. Yang menyeramkan itu justru backsound-nya. Pas banget, dan itu bikin kaget, sehingga saya ngejerit karena kaget itu (dan membuat adik saya ikut terlonjak ngedenger saya ngejerit huhu maap, ototou.) untung nontonnya sama adek saya. Mau peluk-peluk juga gapapa. Huhuhuh. Ehm, back to hantu. Jujur, saya paling serem liat hantu yang jadi emaknya. Yang ada di atas lemari itu. Soalnya hantu anak kecilnya nggak diliatin terlalu jelas (dan saya bersyukur banget karenanya!) selain itu, saya agak bingung; kenapa Annabelle dijadikan cover, sementara di filmnya sendiri, dia jarang berperan, ya? Cuma di awal ama akhir doang. Jadi bingung letak pasnya di mana. Hmm.

Masalah edit mengedit, hmm no comment deh. Saya nggak bisa ngedit film soalnya (cuma bisa ngedit subtitle aja, gabisa kasih efek aneh-aneh gitu) jadi saya rasa sih, sebagai orang awam, itu udah keren. Nggak kelihatan kalo itu editan, dan efek kagetnya itu WOW banget.

Overall, recommended banget buat pada pecinta film horor. Saya jamin, capek nontonnya karena deg-degan dan kaget sana-sini. Jangan lupa nonton dan berikan pendapatmu, oui?

-Hachan-